PANGKEP-kpkinvestigate.com- Bagaimana jika ruang kelas tidak hanya menghasilkan nilai, tetapi juga karya yang berdampak? Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam Kelas Pameran Karya Murid 02: Produk Kreatif dan Kewirausahaan SMKN 7 Pangkep, salah satu rangkaian kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Pangkep, Sabtu (18/7/2026).
Dalam kelas ini, para murid SMKN 7 Pangkep tampil bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai presenter sekaligus pelaku utama pembelajaran. Di hadapan para guru peserta TPN, mereka memperkenalkan berbagai karya dan produk yang dikembangkan melalui proses belajar di sekolah, mulai dari produk pangan khas daerah hingga produk berbasis sains terapan.

Salah satu karya yang dipresentasikan adalah Bolu Kambu khas Pangkep. Para murid tidak hanya memperkenalkan produk tersebut, tetapi juga berbagi cerita tentang proses pembuatannya. Peserta diajak memahami bahwa di balik makanan tradisional yang tampak sederhana, terdapat teknik dan ketelitian yang diperlukan agar cita rasa khasnya tetap terjaga.
Tidak hanya produk pangan, peserta juga menyaksikan demonstrasi pembuatan parfum laundry yang dilakukan oleh murid Jurusan Analisis Pengujian Laboratorium (APL) SMKN 7 Pangkep. Demonstrasi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di sekolah dapat diterapkan untuk menghasilkan produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Karya lain yang turut menarik perhatian adalah presentasi pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO). Dalam sesi ini, para murid menjelaskan proses pembuatan VCO yang membutuhkan perlakuan tertentu untuk menjaga kualitas dan kebersihan produk. Peserta juga memperoleh pengetahuan bahwa VCO dapat diproduksi tanpa melalui proses pemanasan sehingga karakteristik dan manfaatnya tetap terjaga.
Antusiasme guru terlihat sepanjang kegiatan. Mereka tidak hanya menyaksikan presentasi dan demonstrasi, tetapi juga aktif berdialog, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap proses di balik setiap produk. Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi wawasan baru bahwa produk-produk yang akrab dalam kehidupan sehari-hari memiliki dasar ilmiah dan keterampilan khusus dalam proses pembuatannya.
Interaksi antara murid dan guru menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Murid tidak hanya menunjukkan hasil karya, tetapi juga mengambil peran sebagai narasumber yang menjelaskan proses, menjawab pertanyaan, dan berbagi pengetahuan kepada para guru.
“Belajar dari Karya, Bertumbuh Bersama Murid.” Semangat inilah yang terasa kuat dalam Kelas Pameran Karya Murid 02. Para guru diajak melihat bahwa pembelajaran bermakna dapat tumbuh dari potensi yang ada di sekitar murid. Bolu Kambu sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal Pangkep, parfum laundry yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, hingga VCO yang memanfaatkan potensi kelapa menjadi contoh bagaimana pembelajaran dapat dikembangkan menjadi karya yang kontekstual dan bernilai.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran di SMK tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori dan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong murid mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mengolah potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Lebih dari sekadar pameran produk, kelas ini menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan potensi lokal, pembelajaran sains terapan, keterampilan vokasi, dan semangat kewirausahaan. Para guru memperoleh inspirasi bahwa pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga murid tidak hanya memahami apa yang dipelajari, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi karya nyata.
Melalui Kelas Pameran Karya Murid 02, TPN XIII Kabupaten Pangkep kembali menunjukkan bahwa pendidikan yang bermakna lahir ketika murid diberi ruang untuk berkarya, berbagi, dan berkontribusi. Sebab, ketika murid diberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang mereka pelajari, guru tidak hanya melihat hasilnya, tetapi juga belajar dari proses yang mereka jalani.
Di situlah makna pembelajaran yang sesungguhnya: guru dan murid sama-sama tumbuh, sama-sama berbagi, dan bersama-sama menemukan bahwa potensi besar dapat lahir dari ruang kelas yang dekat dengan kehidupan.
(*)






